Pusaka

10/31/11 | by Sekar Arum [mail] | Categories: My Story

Sewaktu saya kecil, saya sering bermain-main dengan (memainkan) pusaka milik Romo. Ada dua benda pusaka yang paling saya suka, sebuah tombak dan sebilah keris 13 luk.

Suatu hari pernah saya mengambil tombak pusaka yang disimpan di bawah bantal Romo. Karena merupakan mata tombak, maka saya ikatkan mata tombak itu ke sebatang bambu. Lalu sayapun pergi mencari kodok. Memang menyenangkan mencari kodok dengan menggunakan pusaka itu, karena tombak yang saya pakai adalah tombak istimewa yang mengeluarkan cahaya dalam gelap.

Tombaknya berwarna hitam kebiruan, cahaya yang keluar berwarna biru tetapi tidak seperti cahaya neon, lebih menyerupai cahaya api yang bergerak-gerak tertiup angin.

Seperti anak kecil lainnya, saya tidak berpikir tentang bahaya yang ditimbulkan jika tombak itu melukai saya atau teman-teman saya. Akhirnya sesudah pulang, saya dapat omelan dan hukuman yang membuat saya jera untuk mengambil pusaka Romo secara sembunyi-sembunyi.

Keris 13 luk milik Romo juga istimewa, keris ini seperti "berembun". "Embun" yang dikeluarkan bukan air tetapi seperti serbuk besi yang jika dilap (diusap) oleh jari tangan, maka akan menempel. Dan saya bisa merasakan serbuk besi yang halus itu pada jari tangan saya sebelum "menguap", hilang. Saya bilang menguap karena "embun" itu tidak bersisa di jari ataupun di lantai. Dan sesaat sesudah diusap, keris itu kembali lagi mengeluarkan "embun".

Keris milik Romo mempunyai warangka dari kayu cendana (tidak pernah diberi minyak wangi karena sudah wangi), kerisnya berukir naga yang lidahnya terjulur, dan pada ujung lidahnya terdapat batu bulat kecil berwarna merah.

Itulah dua pusaka milik Romo yang benar-benar saya ingat. Dan saya jadi kurang yakin jika ada orang yang bilang bahwa sebilah keris (tombak atau bentuk lainnya) adalah pusaka, karena saya tidak pernah lagi melihat pusaka yang begitu istimewa seperti milik Romo.

Eyang Purbo

08/08/10 | by admin [mail] | Categories: History

Saya adalah keturunan dari Hamengkubuwono VI, informasi yang saya tulis dalam blog ini adalah cerita dari Romo saya, Gusti Timur / R. M. Riyo Prayitno yang merupakan putra satu-satunya dari Eyang Purbo, anak dari Gusti Pangeran Harya Surya Mataram Pertama, yang makamnya ada di Semaki, Jogjakarta.

Romo saya keluar dari Keraton karena diperintah oleh ayahnya (Eyang Purbo) untuk merantau, kata Eyang Purbo kepada Gusti Timur: Kowe ora usah ngarepke dadi ratu mung kowe dadio panditaning sejagat royo. Lalu Romo saya keluar negeri dengan alasan naik haji, karena itu adalah satu-satunya alasan yang bisa dipakai untuk keluar dari Keraton.

Romo menikah dengan RGT Murtidjah dan mempunyai 5 orang putra dan 13 orang putri, saya adalah putri yang paling kecil. Romo sering cerita tentang ayahnya (Eyang Purbo) yang begitu sakti mandraguna.

Blog baru

04/13/10 | by admin [mail] | Categories: Blog
Akhirnya blog ini bisa juga online, sesudah proses upload yang lama, setting2, dll.
January 2012
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 << <   > >>
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31        

Search

XML Feeds

Web Hosting
blogging tool